ISD Tulisan 8

Review Assassin's Creed Unity – Romeo, Juliet, Dan Beberapa Serangga Di Sekitar Mereka

 

Assassin's Creed Unity | Featured
Memanjat gedung dengan kemampuan akrobat yang mustahil, membunuh para penjaga yang hanya melakukan pekerjaan mereka demi menafkahi keluarga, memecahkan teori konspirasi yang terbentang selama ribuan tahun, serta tetap terlihat keren meskipun dengan tudung yang menutupi separuh wajah. Hal-hal tersebut adalah esensi utama dari setiap seri Assassin’s Creed yang tidak bosan-bosan dirilis oleh Ubisoft secara rutin setiap tahun. Bahkan tidak tanggung-tanggung Ubisoft tidak hanya merilis satu Assassin’s Creed tahun ini, tapi dua sekaligus. Itu masih belum termasuk berbagai spin-off untuk mobile atau gameyang berbasiskan web.
Meskipun dikuras habis-habisan, seri ini tetap saja menjadi seri yang paling populer dari raksasa game seperti Ubisoft. Jadi tidak mengherankan jika mereka tidak akan berhenti dan terus bersemangat untuk menguras habis-habisan nama dan dunia fiksi Assassin’s Creed. Untuk tahun ini, Ubisoft menjagokan Assassin’s Creed Unity sebagai tiang utama seri Assassin’s Creed di tahun 2014. Setelah melalui promosi dan marketing besar-besaran, apakah Assassin’s Creed Unitymampu membuktikan kualitasnya sebagai game yang bisa membuat seri yang rilis setiap tahun ini tetap menarik untuk dimainkan? Cek ulasan lengkapnya di bawah.
Salah satu hal yang menjadi nilai jual utama dari seri Assassin’s Creed adalah cerita. Setiap game dari seri ini selalu memiliki pola dan tema yang sama, yaitu tentang konspirasi di dunia modern yang dikuasai oleh Templar dengan kedok sebuah perusahaan raksasa bernama Abstergo. Peran kamu di seri ini adalah sebagai Assassin yang merupakan musuh bebuyutan dari Templar.
Selain menggambarkan secara sepintas konflik antara Assassin dan Templar di dunia modern, Assassin’s Creedjuga populer karena menggambarkan kejadian-kejadian bersejarah yang dicampur dengan kisah fiksi ala seri ini. Berbagai teori konspirasi serta penyisipan tema Assassin dan Templar dengan apiknya Ubisoft sematkan dalam berbagai seri Assassin’s Creed yang telah dirilis.
Untuk Assassin’s Creed Unity, kamu akan disajikan dengan perseteruan antara Assassin dan Templar dengan latar belakang revolusi Perancis. Di sini kamu akan bertemu dengan beberapa tokoh ternama di balik revolusi ini seperti Napoleon Bonaparte. Sayangnya, berbeda dengan Assassin’s Creed II yang juga mengenalkan banyak tokoh populer ternama seperti Leonardo Da Vinci dan membuatnya menjadi bagian penting dalam game, tokoh-tokoh seperti Napoleon atau nama-nama yang populer bagi peminat sejarah Eropa berperan sangat kecil di Assassin’s Creed Unity. Seakan-akan kehadiran mereka hanya bermanfaat untuk fan-service saja.
Kurangnya porsi karakter sejarah ini dibayar dengan dalamnya hubungan antara Arno Dorian, karakter utama yang kamu kendalikan, dengan kekasihnya yaitu Γ‰lise de la Serre. Kedua karakter ini merupakan dua sejoli yang sangat mengingatkan saya akan Romeo dan Juliet. Meskipun saling mencintai satu sama lain, hubungan mereka cukup kompleks karena Arno adalah seorang Assassin, sedangkan Γ‰lise adalah seorang Templar.
Konsentrasi ke bagian roman ini merupakan angin lumayan segar untuk seri Assassin’s Creed, mengingat di gamesebelumnya kisah roman antara karakter utama dengan pasangan mereka tidak ditelusuri dengan cukup dalam. Walaupun akan lebih baik lagi seandainya kisah antara keduanya ini tidak perlu ditelusuri dengan mengorbankan bagian historis dan konspirasi yang selalu menjadi nilai jual utama Assassin’s Creed.
Satu hal lagi yang jujur cukup membuat saya kecewa adalah kurang tereksposnya bagian Time Anomaly dalam game.Seperti yang telah Ubisoft kenalkan melalui trailer khusus sebelum Assassin’s Creed Unity dirilis, nantinya Arno, atau lebih tepatnya karakter yang tengah mengendalikan Arno menggunakan Animus, bisa menjelajahi Paris dari era yang berbeda. Saya tidak akan bercerita era apa saja yang akan kamu temukan karena itu adalah spoiler, tapi yang jelas seperti ditunjukkan trailer, kamu akan mengunjungi Paris di masa pendudukan Jerman pada Perang Dunia 2.
Sayangnya, bagian yang berpotensi untuk memperdalam aspek penyampaian cerita dengan sangat besar ini hanya ditampilkan setengah-setengah saja. Aksi kamu di era-era yang berbeda ini hanya sebatas beberapa misi sampingan mengumpulkan benda yang tersebar di area, atau hal standar lainnya. Betul-betul potensi naratif yang terbuang.
Jika kamu berharap bisa menyelesaikan game ini layaknya seorang Assassin yang bayangannya saja tidak nampak, kamu jelas akan merasa sangat kesusahan
Assassin merupakan pembunuh yang terkenal bisa menyusup dan menghilang tanpa diketahui. Diceritakan bahwa Assassin dapat memiliki target yang dilindungi dengan sangat ketat, tapi masih akan mampu untuk menembus seluruh pertahanan dan membunuh sang target tanpa diketahui. Hal itu jelas tidak terbukti di Assassin’s Creed Unity.
Di impresi awal saya tentang game ini, saya memuji aspek pertarungan dalam Assassin’s Creed Unity yang jelas jauh lebih kompleks dan susah dibandingkan dengan game Assassin’s Creed sebelumnya. Jika sebelumnya kamu cukup berjaga-jaga di tombol konter, maka dalam game ini kamu tidak bisa seenaknya saja asal main konter.
Kamu harus menentukan kapan waktunya menyerang secara frontal, kapan waktunya menghindar, atau kapan waktu yang tepat untuk menepis serangan lawan. Hal ini jelas lebih menarik dari apa yang biasa kita dapatkan di seri Assassin’s Creed, namun sayangnya game sering kali membuat posisi kamu sedikit tidak imbang dengan menyajikan banyak musuh sekaligus mengepung Arno, membuat aspek pertarungan di game ini terkadang malah terasa seperti game button-mashing.
Hal ini semakin diperparah dengan kecilnya kesempatan untuk melakukan aksi pembunuhan dengan hidden blade.Jika sebelumnya kamu bisa menggunakan hidden bladeuntuk membunuh secara instan asalkan musuh tidak melihat, maka sekarang kamu harus betul-betul tidak terdeteksi musuh untuk melakukannya. Dikarenakan kontrol dan aspek stealth game ini sangatlah buruk, melakukan aksi tidak terdeteksi sepenuhnya adalah hal yang sangat sulit, alhasil hidden blade di sini jadi memiliki peran yang tidak sebesar game sebelumnya. Mungkin kalau dijelaskan melalui tulisan kamu akan merasa hal ini termasuk minor, tapi kalau kamu merupakan pemain lama seri Assassin’s Creed, dijamin kamu akan sangat terganggu dengan batasan ini.
Di atas saya sempat menyinggung sedikit tentang stealthyang sangat buruk dalam Assassin’s Creed Unity. Ironis memang seri Assassin’s Creed yang seharusnya terkenal karena stealth malah memiliki aspek stealth yang hampir selalu mengecewakan. Sebenarnya Assassin’s Creed Unitysudah lebih memperbaiki aspek stealth dibandingkan pendahulunya. Hal ini berhasil dilakukan dengan penambahan tombol untuk menunduk yang seharusnya sudah tersedia dari dulu. Tapi meskipun begitu, game ini masih sering sekali menghasilkan hal konyol seperti Arno yang memilih tempat berlindung yang salah saat diperintahkan untuk bersembunyi, sampai ke AI musuh yang luar biasa bodoh. Jika kamu berharap bisa menyelesaikan game ini layaknya seorang Assassin yang bayangannya saja tidak nampak, kamu jelas akan merasa sangat kesusahan..
Tentang Bug dan Glitch, Jika kamu termasuk orang yang mengikuti perkembangan berita gametermasuk di situs selain Games in Asia, mungkin kamu sudah dengar tentang banyaknya masalah dalam game Assassin’s Creed Unity.Mulai dari wajah karakter yang menghilang, masalah save, game yang tiba-tiba mati, karakter yang tidak bisa bergerak, dan lain sebagainya. Jujur untuk urusan ini saya tidak bisa berkomentar banyak, karena dari pengalaman saya memainkan keseluruhan cerita Assassin’s Creed Unitybeserta beberapa jam misi sampingan dan multiplayer,saya hanya menemukan dua kali masalah yang menyebalkan.
Jadi, kalau kamu ingin bermain tanpa bug sama sekali, maka kamu mungkin harus menunggu sampai Ubisoft mengeluarkan lebih banyak patch untuk Assassin’s Creed Unity. Tapi kalau kamu tidak sabar untuk memainkan game ini, saya tidak ragu-ragu untuk menyarankan kamu untuk tidak terlalu khawatir dengan urusan bug, karena persentase keluarnya yang tidak sebesar apa yang digembar-gemborkan di luar sana.
Meskipun cukup dijangkiti masalah menyebalkan untuk urusan gameplay, saya tidak bisa memungkiri bahwa saya menemukan kesenangan yang luar biasa dalam memainkan misi multiplayer di Assassin’s Creed Unity. Memang kamu tetap akan menemukan masalah seperti yang dijelaskan di atas, tapi sensasi yang akan kamu rasakan melalui berlarian dan melakukan parkour bersama-sama itu sangatlah seru dan nampak keren.
Dalam game ini, saat bermain multiplayer kamu tetap akan berperan sebagai Arno. Sedangkan pemain lain akan berperan sebagai … Arno juga. “Lho terus bagaimana dong bermainnya?” Mudah saja, dari sudut pandang kamu, pemain lain hanyalah Assassin tanpa nama, sedangkan dari sudut pandang pemain lain, kamulah Assassin yang tak bernama. Tidak perlu takut juga kamu akan berpenampilan sama persis dengan pemain lain, karena di sini kamu bisa memodifikasi penampilan Arno sesuka hati, hal ini akan saya bahas lebih lanjut di bawah.
Kamu dapat mengakses multiplayer melalui pemberi misi yang tersebar di kota Paris. Setiap misi multiplayer biasanya memiliki cerita sendiri layaknya misi utama. Cara bermain misi multiplayer pun kurang lebih sama dengan single player,hanya saja kamu akan ditemani dengan orang lain yang kemungkinan besar tidak kamu kenal.
Seperti yang sudah saya singgung di impresi awal, hal paling menyenangkan di bagian multiplayer co-op ini adalah bagaimana kamu bisa beraksi dengan orang lain yang tidak kamu kenal tanpa harus melakukan komunikasi verbal langsung, cukup dengan isyarat gerakan tubuh saja. Betul-betul mengingatkan saya akan game multiplayer paling indah yang pernah saya mainkan, Journey.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Membuat Animasi Bola jatuh

Pendahuluan

Apakah Mesin Dapat Berfikir?