ISD Tulisan 5
Review Modern Warfare 3: Pertempuran Terakhir
Demi Kedamaian Dunia!
Jika kita membicarakan franchise game FPS paling fenomenal di industri
game saat ini, nama Call of Duty: Modern Warfare layak menjadi
yang terbaik. Kemampuannya meramu sesuatu yang unik, yakni tema perang modern
yang berfokus kepada kekinian, menjadi hal yang sangat menjual di kala
perilisan awalnya. Apalagi game ini juga menghadirkan plot dengan dramatisasi
yang benar-benar memanjakan mata, sekaligus mampu membawa gamer dalam emosi keterlibatan
yang unik. Lewat semua kualitas inilah, Modern Warfare berkembang sebuah
standar baru yang berusaha diikuti oleh game FPS yang lahir sesudahnya.
Call of Duty: Modern Warfare dan Modern Warfare 2 sendiri sudah
membuktikan diri sebagai game-game FPS terbaik dunia. Tidak hanya didasarkan
kepada beragam pujian media atas gameplay dan plot yang diusung, tetapi juga
mengacu ke data valid seperti tingkat penjualan yang luar biasa. Activision
juga dengan cerdasnya membuat seri ini berlanjut dalam sebuah cerita
berkesinambungan sehingga cukup mustahil bagi gamer untuk tidak mengikutinya
ketika sudah terlibat dalam salah satu serinya. Satu hal yang pasti, sepanjang
sejarah game Modern Warfare, single player selalu menjadi kekuatan utama dan
seringkali tampil mengagumkan. Tidak heran, jika perilisan Modern Warfare 3
hadir dengan beban tertentu.
Ekspektasi yang tinggi sudah pasti disematkan di seri terbaru, Modern
Warfare 3 ini. Mampukah ia menghadirkan kejayaan MW dan MW2 dan
sekaligus membawanya ke level yang baru? Apalagi ia kini juga harus menghadapi
penantang tak takut untuk bertarung berhadap-hadapan secara frontal,
Battlefield 3 dari EA dan DICE, yang tampak begitu superior dari banyak fitur
yang ditawarkan. Sementara di pihak gamer, kecurigaan akan kualitas yang buruk
mengemuka karena fokus Activision yang tampaknya hanya berusaha untuk
menjadikan Modern Warfare 3 tak lebih dari sekadar pundi uang. Dengan perilisan
yang kini sudah di tangan, mampukah MW3 membuktikan semua keraguan tersebut?
Tidak
hanya sekadar visualisasi, tetapi juga jalinan plot yang diusung. Setelah
memasuki waktu permainan yang proporsional, kita akhirnya tiba di moment
of truth untuk membahas keseluruhan kualitas yang ditawarkan Modern
Warfare 3 ini. Apakah MW3 berhasil menghasilkan sensasi kekaguman yang sama?
Plot
Dunia sedang berada di ujung krisis. Setelah “konspirasi” yang dimainkan
oleh Makarov dengan cantik di Modern Warfare kedua, Rusia akhirnya terpancing
untuk menyerang Amerika Serikat. Dengan kekuatan penuh dan beragam teknologi
militer canggih yang disertakan, negara beruang merah ini akhirnya berhasil
masuk ke dalam kota-kota besar dan mulai mengokupasi wilayah Amerika Serikat
secara perlahan.
Kombinasi personel militer hebat seperti Captain Soap dan Price pun tak
mampu berbuat banyak. Mengapa? Konsentrasi terpecah antara memburu Makarov atau
menghentikan kegilaan Sheperd yang mulai berkhianat. Keputusan untuk menghabisi
Sheperd terlebih dahulu ternyata menghasilkan dampak yang tak kalah buruknya.
Soap terluka parah, meregang nyawa, dan Makarov punya lebih banyak waktu untuk
merencanakan perang selanjutnya.
Modern Warfare 3 dimulai dari timeline tepat sesaat setelah akhir dari
Modern Warfare 2. Soap yang terluka dan Amerika yang porak-poranda menjadi
fokus cerita di awal permainan. Melalui sudut pandang orang yang beragam, gamer
mulai mendapatkan gambaran akan tujuan utama Makarov yang sebenarnya. Bahwa
ambisi si nasionalis ekstremis Rusia ini ternyata tidak hanya untuk menghabisi
Amerika Serikat, tetapi juga menyapu bersih seluruh sekutunya. Makarov yang tak
lagi memperlihatkan sisi manusiawinya sama sekali tak segan menggunakan semua
cara untuk mencapainya. Anda dipanggil untuk menghentikan kegilaan ini.
Skema yang dijalankan oleh Makarov membuat dunia tak terhindarkan dari
perang dunia ketiga. Ia berhasil menculik dan menekan presiden Rusia, Boris
Vorshevsky, yang hampir menghentikan perang lewat perjanjian gencatan senjata.
Makarov membuat perang terus berlanjut, sekaligus berusaha mendapatkan akses
senjata nuklir dari sang presiden. Sementara itu, di belahan bumi yang lain, ia
mempersiapkan senjata kimia untuk meluluhlantakkan negara-negara besar Eropa.
Para patriot di seluruh dunia tak punya piihan lain: mereka harus bersatu untuk
menghentikan Makarov. Anda akan bertemu dengan Soap, Price, Yuri, Sandman,
Nikolai, Frost, Andrei Harkov, dan Burns yang berjuang mati-matian untuk
mengembalikan kembali kedamaian dunia.
Gameplay Sama dengan Pengalaman yang Jauh Lebih Intens
Banyak gamer yang mungkin bermimpi untuk merasakan sebuah gameplay FPS
perang modern yang berbeda dan inovatif, yang benar-benar membawa sebuah pengalaman
yang baru. Namun jujur saja, dengan begitu banyak franchise yang sudah lahir
setelah Modern Warfare, pada kenyataannya, memang tidak banyak hal baru yang
bisa ditawarkan. Sebuah game first person shooter sudah pasti hanya meminta
Anda untuk membawa dan memilih senjata, menembak semua musuh yang ada,
berlindung jika sekarat, dan bergerak dari titik A ke B. Terkadang para
developer akan menambahkan misi rail-shooter untuk variasi. Namun secara
keseluruhan? Kesederhanaan gameplay seperti ini seolah tak terpisahkan dari
game FPS mana pun, termasuk Modern Warfare 3 di dalamnya.
Jika Anda berangkat dengan ekspektasi tinggi bahwa Modern Warfare 3 akan
datang dengan sebuah gameplay yang baru, urungkan niat tersebut. Tidak banyak
hal yang berubah dibandingkan dengan dua seri Modern Warfare sebelumnya. Anda
bersama dengan AI yang ada hanya harus menyelesaikan misi tertentu dalam satu
jalan linear sembari “menuntaskan” semua musuh yang ada. Jika ada yang berubah,
penambahan beragam senjata dual-scope dan variasi senjata baru cukup layak
untuk diperhatikan, walaupun tidak berpengaruh terlalu signifikan terhadap
permainan. Anda masih akan diberi kesempatan untuk mengendalikan beragam
peralatan teknologi canggih, dari AWACS hingga UAV darat bersenjatakan gatling
gun. Variasi ini juga diperkuat di beberapa misi di mana gaya
permainan rail-shooter terasa.
Namun, ada satu hal yang membuat “kesamaan” dan “kesederhanaan” ini
justru menjadi unik. Mengapa? Secara mengherankan, gameplay yang sama ini
justru mampu menghasilkan pengalaman bermain yang berbeda, jauh lebih baik,
intens, dan epik dibandingkan kedua seri sebelumnya. Acungan dua jempol harus
diberikan kepada Activision, infinity Ward, dan Sledgehammer Games atas
kemampuan mereka untuk meramu plot sedemikian rupa. Berbagai sudut pandang
permainan yang berbeda akan membuat membuat cerita berkembang dalam bentuk
potongan-potongan kecil. Masing-masing darinya membawa dramatisasi yang akan
membuat emosi Anda naik dan turun. Perang yang besar, penuh ledakan,
konspirasi, kekejaman, persahabatan, kehilangan, hingga pengorbanan akan Anda
rasakan selama single player ini.
Walaupun Anda sudah pernah memainkan atau hafal mati dengan dua seri
sebelumnya, Modern Warfare dan Modern Warfare 2, Anda tetap akan merasakan
kekaguman akan apa yang ditawarkan MW3. Anda masih akan sering terkejut dengan
event yang ada, setidaknya cukup membuat Anda bertanya-tanya atau bahkan
mengumpat takjub. “Bagaimana bisa?”, “Mengapa”, “&^@*, keren!!” tampaknya
akan mudah keluar dari mulut Anda. Apalagi MW3 menghadirkan Yuri sebagai
karakter baru yang secara mengejutkan ternyata membawa peran begitu penting
dalam keseluruhan franchise Modern Warfare. Walaupun mengusung gameplay yang
tak banyak berbeda, Activision berhasil membawa Modern Warfare 3 satu kelas
lebih tinggi lewat jalinan cerita yang dibangun. Bahkan lebih baik dari
film-film perang Hollywood yang pernah Anda saksikan.
Komentar
Posting Komentar